iklan

Cloud Hosting Indonesia

Iklan

iklan

terkini

Akhirnya Kutemukan Jawabannya

28/10/2021, 21:40 WIB Last Updated 2021-11-09T01:20:53Z
Gambar ilustrasi /ist.

Penulis : Witasari Guru SMPN 249 Jakarta Barat

Temannya memanggil anak laki-laki itu dengan panggilan “Ian”, saat itu dia duduk di bangku SMP kelas 8, dan ketika itu aku adalah guru matematika sekaligus wali kelasnya, Ian adalah sosok pribadi yang berbeda dari teman-temannya, pembawaannya di dalam kelas termasuk pendiam dan sangat tidak respon dengan sekeliling bahkan dengan gurunya.

Disetiap awal tahun pembelajaran, aku selalu membuat kontrak belajar dengan siswa di kelas yang aku ajar , dimana salah satu poinnya adalah siswa harus  maju kedepan untuk menyelesaikan soal semampunya, jika diberi kesempatan untuk maju ke depan kelas. Dan hal ini tidak dilakukan Ian, setiap dia diberi kesempatan kedepan , bahkan untuk maju jalan saja ke depan saja misalnya hanya menulis ulang soal..dia tidak mau , yang dilakukan adalah menampakkan muka masam dan dingin. Tingkahnya yang seperti ini seringkali membuatku meradang, suasana kelaspun menjadi tak nyaman.

Hari itu, seperti biasa aku masuk ke kelas Ian dan itu adalah jam pertama. Aku tak melihat Ian duduk di bangkunya, hanya sebuah tas yang menggantikan posisi tempat duduknya. Ketika aku bertanya kepada teman-teman di kelasnya , tidak satupun siswa yang bisa menjelaskan kemana Ian pagi itu. Sikap dan tingkahnya yang seperti itu sering kali membuat aku kurang bisa kontrol emosi, akhirnya aku sampai pada kesimpulan, biar saja aku abaikan anak ini! Dan bahkan ketika Ian tak tampak dalam kelas aku merasa kelas menjadi lebih nyaman….Astaghfirulloh.

Bel istirahat berdering, pertanda aku bisa sedikit berbincang menumpahkan rasa galauku mengahadapi sosok makhluk bernama Ian. Sambil bersantai diruang guru aku membuka pembicaraan dengan salah satu teman sejawatku dan aku tumpahkan segala cerita tentang Ian di kelas, dan gayung pun bersambut. Ternyata, teman sejawatku yang aku ajak untuk curhat adalah tetangga dari Ian. Temanku menceritakan bahwa Ian tinggal bersama neneknya dan ayahnya adalah “ bang Thoyib’ begitupun ibunya adalah “ bu Thoyib” yang pergi entah kemana tak menjalankan tugas dan fungsi sebagai orang tua Ian.
Temanku bercerita tentang kegiatan neneknya Ian, beliau adalah sosok wanita tua yang rajin bekerja dan setia menemani Ian. Selama temanku bercerita tentang Ian dan neneknya dadaku bergemuruh dan air mataku nyaris tumpah ,semua rasa campur aduk : sedih , menyesal, iba dan entahlah masih banyak rasa yang aku rasakan. Aku merasa bersalah karena aku mendidik Ian belum sepenuhnya  menggunakan hati, aku memerangi diriku sendiri dan memaksa diri untuk lebih sabar dan ramah terhadap Ian. Aku menangis dalam hati membayangkan kehidupan Ian tanpa ayah dan ibu, di usia dimana sosok mereka sedang dibutuhkan Ian, pantas Ian disekolah memiliki sikap dingin dan no respon, mungkin sikap seperti itu tak lepas dari beban hidup yang sedang dia alami.
Aku ingin berubah! Aku ingin lebih sabar dan ramah menghadapi Ian, tapi sekali lagi aku hanyalah manusia biasa yang masih banyak sekali kelemahan dan ketika aku masuk kelas Ian, realita yang aku hadapi sangat sulit aku kendalikan , bayangkan ketika teman-temannya semua sibuk  mengumpulkan tugas , Ian bahkan tidak pernah menjawab ketika di tanya. Sikapnya yang makin menyebalkan membuat aku pada posisi serba salah, aku sering mengalami perang  bathin yang tiada berkesudahan.  Akhirnya aku putuskan untuk berkoordinasi dengan guru BK dan membiarkan Ian dengan sikapnya di kelas dan aku terus mengajar dan membimbing teman-temannya yang lain tanpa terlalu ambil pusing dengan sikap-sikap yang ditunjukkan Ian.
Hari berganti dan tibalah saat angkatan Ian menjadi siswa SMA,  aku dikenal siswa sebagai  guru yang “kepo”,  karena aku selalu cari tau khabar siswa-siswa ku yang lulus dan melanjutkan ke sekolah lanjutan, swasta ataupun negeri. Aku mengikuti perkembangan proses PPDB dari hari pertama Sampai saat pengumuman. Dan aku terbelalak tak percaya ketika aku lihat nama lengkap dan asal sekolahnya, aku seperti tidak rela dan bingung karena Ian bisa diterima masuk ke sekolah peringkat pertama di Cengkareng dan teman sekelasnya yang paling pandai dan memiliki sikap yang baik dan sangat aku banggakan ia adalah Dania hanya masuk kesekolah yang peringkatnya dibawah sekolah Ian. Berkali-kali aku lihat pengumuman di layar laptopku dan aku berharap aku salah .
Setelah beberapa pekan tahun ajaran baru berlangsung, aku mendapat konfirmasi dari salah satu siswaku, bahwa apa yang aku lihat memang benar adanya, yaitu Ian diterima di sekolah peringkat 1 dan Dania diterima di sekolah peringkat  3, padahal ketika mereka di SMP sangat jauh berbeda kemampuan dan kejujuran antara Ian dan Dania. Aku termenung menerawang mengingat saat aku bersama mereka, mengapa kondisi seperti ini bisa terjadi? Mengapa anak yang sangat tidak berkompeten dan memiliki sikap kurang baik bisa melenggang masuk ke sekolah  favorit, sedangkan anak yang berkompeten dan memiliki sikap yang baik justru tidak bisa mendapat apa yang dia inginkan. Aku berusaha introspeksi apa yang salah dari pandanganku kepada mereka…?

Satu semester sudah mereka jalani di sekolah lanjutan atas, dan Allah mempertemukan aku dengan salah satu alumni yang sudah kelas 12 dan satu sekolah dengan Ian , aku memanggilnya Ari. Ari dan beberapa temannya ingin sekali belajar matematika bersamaku, dan aku sangat senang, karena Ari adalah anak yang rajin, pintar dan bersahaja. Setelah belajar setengah jam, tiba-tiba aku ingin sekali bertanya khabar Ian.

Setelah mendengar cerita Ari tentang Ian, rasanya  seperti ada bongkahan batu besar yang keluar dan terjawab sedikit demi sedikit kebingungan kondisi yang aku amati tentang siswa-siswaku yang menurutku seperti “nasib yang tertukar”.
Ari bercerita bahwa Ian hanya bersekolah di sekolah SMA favorit tersebut selama dua bulan saja, karena merasa kesulitan mengikuti pembelajaran disana, dan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah tersebut. Dan disaat yang sama, temannya Ari disekolah tempat Dania belajar juga menjelaskan bahwa Dania di SMA selalu dipilih untuk mengikuti beberapa ajang lomba akademik. Dari kompetisi sampai OSN dan Dania selalu membawa nama baik sekolahnya. Alhamdulillah sedikit demi sedikit aku mendapat jawabannya. Bahwa siswa yang tidak jujur dan tidak berusaha maksimal tetapi memperoleh hasil yang memuaskan, itu merupakan kesenangan sesaat, Ian mendapat nilai bagus di UN karena mencontek dan tidak berusaha belajar tetapi melenggang masuk sekolah favorit dan setelah itu Ian harus menikmati kerugian yang besar berupa rugi waktu, biaya (karena ketika dia masuk SMA , sekolah negeri masih memungut biaya operasional pendidikan ) dan juga dampak psikologisnya.Pada tahun kedua dimana seharusnya Ian sudah kelas 11 , ia mendaftar lagi dan diterima di sekolah negeri yang sesuai dengan kemampuannya. Sementara Dania di sekolah SMA, selalu mendapat penghargaan dan berhasil menang lomba OSN Biologi tingkat kotamadya, memang ikhtiar tak pernah membohongi hasil.
Kisah Ian tidak berhenti sampai disini, Setelah ia masuk sekolah lanjutan tahun ketiga dan aku sudah melupakan nama itu, tetapi Alloh lagi lagi mempertemukan nama itu lewat murid privatku, adila namanya. Ia bercerita tentang sosok kakak kelas yang bersahaja dan disegani beberapa guru di sekolah, termasuk guru matematika SMAnya, sosok siswa yang ciri-ciri dan namanya aku kenal dengan baik, yaitu Ian. Lagi-lagi aku bergumam, kenapa nama itu sering kali membuat aku tak pernah lupa runtutan skenario ketika dia di kelas 8 naik kelas 9 sampai lulus dan masuk sekolah favorit dan akhirnya keluar dan masuk kembali kesekolah biasa menjadi siswa baru, runtutan kisahnya selalu mengejutkan, dan cerita Adila tak kalah mengejutkan.
Adila menceritakan tentang Ian di SMA , Ian adalah sosok siswa yang di segani guru sekolahnya karena sering sekali membantu guru-guru yang membutuhkan bantuan dari siswa,  sering tidak terlihat memperhatikan penjelasan dari guru ,tetapi selalu bisa menjawab dengan tepat, rajin sholat dhuha di jam-jam tertentu, dan selalu aktif di masjid sekolah, seringkali juga sambal berjualan makanan ringan yang dikemas sendiri. Sosok kakak kelas Adila sepertinya aku kenal dengan baik tapi aku tidak yakin karena sosok itu begitu berbeda 1800 dengan kepribadian waktu di SMP. Aku sempat meragukan apakah sosok itu adalah Ian yang telah membuat emosiku naik turun.

Suatu ketika aku mencoba untuk mengkonfirmasi kembali apakah Ian yang diceritakan adalah Ian muridku dulu, dan ternyata Ian menitip salam dan bercerita ke Adila bahwa Ian begitu mengenal aku sebagai guru yang paling baik, selalu perhatian, memotivasi dan menginspirasi, dan Ian ingin sekali bertemu dengan ku dan meminta alamat lewat Adila. Aku semakin tidak yakin bahwa yang diceritakan, adalah Ian muridku di SMP .

Bulan berganti dan hari itu masih dalam suasana idul fitri, dimana aku sering sekali kedatangan tamu siswa-siswaku atau yang sudah alumni, hal ini adalah salah satu bagian terindah sebagai guru, melihat beberapa alumni yang sudah sukses lulus di sekolah negeri baik tingkat SMA ataupun perguruan tinggi dan ada diantaranya yang juga sudah pegawai negeri. Ada yang berbeda tamu yang datang pada hari itu yaitu di hari ketiga Idul Fitri, ternyata salah satu alumni yang datang adalah Ian. 
Ian yang sekarang menjadi sosok yang berbeda dengan Ian yang aku kenal di SMP dulu. Ian bercerita setelah lulus SMP dan masuk ke SMA favorit melalui jalur yang salah dan akhirnya dia mengalami kesulitan mengikuti mata pelajaran di SMA favorit, dengan sangat terpaksa dia harus keluar dari sekolah dan menanti sampai tahun berikutnya untuk masuk ke SMA yang sesuai dengan kemampuannya, dan selama masa menunggu , Ian selalu ingat semua hal yang pernah saya sampaikan tentang pentingnya kejujuran dan ikhtiar maksimal untuk menggapai harapan-harapan kita. Ia menyadari semua kekeliruannya  bahwa kedustaan membawa kerugian dan kesengsaraan, Ian bertekad kuat merubah semuanya kearah yang lebih baik, dengan dukungan neneknya yang tulus menenemani hidupnya sejak belia sampai kini dewasa, akhirnya mengantarkan sosok Ian menjadi pribadi tangguh yang berkesempatan mendapat beasiswa dari sebuah universitas di mesir dan pada saat yang sama ia juga mendapat beasiswa dari sebuah insitut ilmu Al Qur,an. Karena ingin tetap bersama nenek tercinta yang telah menemani sepanjang kehidupannya menjelang usia dewasa, dimana ibunda yang harusnya ada di sampingnya dan ayah yang seharusnya mendukungnya di saat suka dan duka, yang membantu merubah pola pikirnya membentuk karakter menjadi semakin baik.
Aku bersyukur kepada Alloh yang telah berkesempatan menjadi bagian yang menginvestasi kebaikan kepada sosok Ian, bersyukur peranku sebagai pendidik menjadi sebuah bukti nyata ketika kita mendidik dengan hati dan tulus mencetak generasi unggul, maka Allah akan ikut campur membantu membentuk pripadi yang unggul. Dan aku berjanji dalam hati bahwa profesiku sebagai guru akan aku jadikan ladang amal.Mendidik siswa dengan penuh ketulusan dan kesabaran, tidak lagi terpancing emosi sesaat. Semoga Allah menjadikan semua anak-anak didik dalam pengasuhanku menjadi pribadi-pribadi unggul. Sebagai guru senantiasa di beri kekuatan untuk selalu mendidik dengan hati bersih dan ketulusan….Aamiin.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Akhirnya Kutemukan Jawabannya

Terkini Lainnya

Iklan