Cloud Hosting Indonesia

Senin, Juli 19

Pelaku Penyebar Video Berita Hoax di Brebes Berhasil Diciduk Polisi

EMSATUNEWS.CO.ID, BREBES - Salah satu warga Brebes yang menyebarkan berita bohong terkait demo penolakan PPKM Darurat, diciduk petugas Polres Brebes. Video yang diposting adalah demo tentang penolakan Omnibuslaw pada tahun lalu.

Penyebar video berita bohong diamankan petugas Polres Brebes, Minggu (18/7) malam
kemarin.

Keterangan yang dihimpun pelaku seorang pria berinisial MK (30), warga Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes saat ini masih menjalani proses pemeriksaan di Mapolres Brebes.

Kasat Reskrim AKP Hadi Handoko membenarkan perihal penangkapan tersebut dan pihaknya  mengungkapkan kasus itu terbongkar berawal dari munculnya postingan video unjuk rasa dengan keterangan ‘Situasi Brebes Pada Saat Ini’.

Video demo itu diupload di media sosial (medsos) oleh akun milik pelaku  pada Minggu (18/7) kemarin.

Padahal, kata Kasat Reskrim, saat itu di Alun-alun Brebes tidak ada aksi unjuk rasa.

“Seorang pria terduga penyebar hoaks ini sudah kami amankan, dan sekarang masih dalam proses pemeriksaan penyidik,” kata Hadi kepada awak media diruang kerjanya, Senin (19/7).

Dikatakan Hadi dari hasil penyelusuran video unjuk rasa tersebut ternyata  diketahui video lama saat  kejadian unjuk rasa terkait penolakan Undang-undang Cipta Kerja pada tahun 2020 lalu. 

Akibat postingan itu, memicu keresahan warga, karena pada kenyataanya saat ini tidak ada unjuk rasa dan kondisi Brebes kondusif.

“Video lama, unjuk rasa penolakan omnibus law tahun lalu. Tapi diposting seolah olah video demo penolakan PPKM Darurat di alun alun,” ujarnya

Lanjut Hadi, kepada petugas pelaku mengakui memosting video berita bohong karena merasa kesulitan ekonomi akibat adanya penerapan PPKM Darurat. Tujuan membuat postingan tersebut untuk mengajak warga lainnya untuk ikut demo menolak adanya PPKM Darurat.
Selanjutnya Polisi saat ini masih terus mendalami dan mengembangkan kasus ini. Termasuk, keterlibatan pihak lain di belakang pria sebagai pelaku penyebar berita bohong tersebut.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat pasal 15 Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 tentang Berita Bohong, dengan ancaman hukuman maksimal 2 tahun penjara.

Hadi mengimbau, masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan medsos apalagi saat ini pemerintah sedang melaksanakan kebijakan PPKM Darurat.

“Untuk para admin grup di Medsos Facebook, diharapkan  kerjasamanya manakala ada orang yang memposting berita bohong atau ujaran kebencian, bisa memberikan informasi kepihak Polisi Ataupun  menghapusnya karena bisa memunculkan keresahan di masyarakat,"  pungkas Hadi  - (imam).

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Write comment

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Berita Terkini

Back to Top